
Pada era Galatama, BR lebih banyak berkutat di papan bawah. Jika saja kompetisi Galatama mengenal sistem promosi-degradasi, klub yang didirikan figur penting dengan latar belakang berbeda seperti Suhud Warnaen (alm), Agus Muhyidin, Mashud Wisnusaputra, Samsoeddin Tjoerita, Arifin Panigoro, Nugraha Besoes dan Mochamad Hidayat itu, sudah selayaknya terdegradasi ke kasta yang lebih rendah.
Garis nasib mengubah BR, ketika PSSI memutuskan melebur Perserikatan dan Galatama kedalam satu wadah bernama Liga
BR yang kala itu diasuh Nandar Iskandar, mampu mencuri perhatian. Salah satu kunci dibalik semua itu, tak lepas dari keputusan Manajemen BR dibawah komando Tri Goestoro untuk membuka pintu bagi Dejan Glusevic. Legiun asing asal
Keputusan yang berbuah manis, mengandalkan Peri-Dejan di lini depan ditambah kedatangan dua pemain asal Kamerun Kisito
Setelah mampu mengukir prestasi menembus babak 8 besar, banyak yang menganggap BR calon kuat sebagai yang terbaik di penyelenggaraan perdana Ligina. Faktanya, BR yang hanya butuh hasil seri untuk meraih tiket semifinal. Akhirnya gagal usai dikandaskan Pupuk Kaltim 1-2 pada laga terakhir babak 8 besar.
Kegagalan di Ligina I tak membuat BR yang berubah nama menjadi Mastrans Bandung Raya (MBR) hancur dimusim berikutnya. Tanpa banyak perubahan di komposisi pemain. Ditambah perggeseran pada kursi pelatih, dimana posisi Nandar digantikan arsitek asal Belanda, Henk Wullems membuat MBR tetap menjadi tim kuat.
Usai finish diurutan teratas putaran pertama sekaligus memastikan tiket ke babak 12 besar. MBR mampu memperbaiki prestasi yang diraih di musim sebelumnya setelah berhasil menembus partai semi final. Menghadapi Mitra Surabaya, MBR menunjukan kematangan mentalnya dalam drama adu penalti dengan skor 4-2 (0-0, 0-0).
Di laga pamungkas, lawan yang lebih berat sudah menanti. Tapi PSM, ternyata gagal menghentikan langkah MBR usai menyerah 0-2, lewat gol dari duet striker MBR Peri dan Heri Rafni Kotari di Stadion Utama Senayan.
Musim ketiga seolah menjadi awal tenggelamnya BR. Selain harus kehilangan Dejan yang ‘dibajak’ Pelita. BR yang diarsiteki Albert Fapie (Belanda) kala itu, memang mampu mencapai partai final. Namun, Persebaya Surabaya yang dihuni pemain-pemain bintang seperti Carlos de Mello, Jacksen Tiago, Aji Santoso, Eri Erianto (alm) dan lainya terlalu tangguh bagi BR yang menyerah 1-3.
Setelah kegagalan tersebut ditambah persoalaan finansial, akibat minimnya dukungan terutama pemerintah daerah. Manajemen BR memutuskan klub ini tak ikut berkompetisi. Keputusan yang sebenanya sangat memukul para pendukungnya kala itu.
Sebelum memutuskan mundur disadari atau tidak BR sebenarnya telah menyedot perhatian masyarakat
Prestasi hebat BR pada tiga musim berturut-turut Ligina I-III) menjadi sebuah rangkaian cerita yang membuat klub ini seperti terkubur dalam keindahan.(***)
Post a Comment