
Bicara strategi pemasaran, Garuda sebenarnya belum bisa dikatakan sebagai ikon olahraga yang menjanjikan untuk memperluas pasar sebuah produk. Karena itu muncul pertanyaan kenapa Telkom lebih memilih Garuda dibanding komunitas olahraga yang memiliki basis pendukung luar biasa seperti Persib Bandung?
“Semuanya sesuai apa yang kami harapkan, terutama terkait image (citra) yang ingin diperoleh. Kami menilai bola basket tak banyak meninggalkan kesan negatif dan sangat menjunjung tinggi sportivitas dan nilai-nilai fair play. Satu hal yang perlu diketahui, bukan pihak Garuda yang meminta, namun justru kami yang meminta Garuda bekerjasama. Nilainya jauh lebih kecil dari apa yang bisa kami peroleh setelah mensponsori Garuda dari sisi brandit,” katanya.
Padahal bicara mampu dan tidak Telkom menyuntik dana segar kepada sebuah komunitas olahraga yang tiap tahunya membutuhkan dana berlipat dan bernilai puluhan miliar seperti Maung Bandung. Dengan kekayaan perusahaan yang mencapai sekitar Rp142 triliun, Telkom bisa melakukanya.
Bicara hubungan dengan Persib, Telkom tak bisa dikatakan tak memiliki hubungan dekat. Sekadar diketahui ketika Maung Bandung membumikan trofi Presiden sebagai simbol juara Liga
Lalu apa yang membuat Persib sejauh ini kesulitan mendapatkan investor kelas kakap, meski sudah berbentuk Perseroan Terbatas (PT). Wakil Manajer, Umuh Moechtar dalam sebuah kesempatan pernah mengungkapkan salah satu hal penting yang selama ini seolah dipinggirkan Maung Bandung yakni upaya menumbuhkan dan memperoleh kepercayaan dari luar maupun dalam.
“Prinsip seorang pengusaha atau perusahaan meraih keuntungan bukan kerugian. Entah itu keuntungan dalam arti materi maupun diluar itu, termasuk didalamnya citra perusahaan,” papar Umuh.
Sebagai pengusaha, Umuh memang paham apa yang mesti dilakukan jika pembahasanya sudah mengarah pada aspek bisnis. Ia menyadari Persib dan sepakbola
“Tak ada kejelasan kemana larinya uang hasil tender panpel (Rp1.05 miliar), begitu juga dengan uang kompensasi sekitar Rp100 juta dari sponsor apprarel. Jadi jangankan menumbuhkan kepercayaan dari luar. Sikap saling percaya didalam tim saja belum mampu dilakukan dengan baik,” ucap salah seorang pengurus.
Sebagai contoh kasus urungnya produk apparel raksasa asal Italia, Diadora yang gagal memperoleh tempat di Persib. Padahal kala itu, Diadora kabarnya sudah bersedia menyediakan ‘barang’ yang dibutuhkan tim yang total bernilai lebih dari yang ditawarkan sponspor apparel Persib saat ini, Villour.
Meski kesepakatan pengurus teras Persib dengan Villour dijalin atas nama demi mengembangkan produk lokal. Namun, alasan tersebut tentunya rancu dengan konsep membangun industri seperti yang didengungkan pengurus teras.(***)
Post a Comment